Senin, 13 Mei 2019

BAGAIMANA PENDERITA MAAG  BERPUASA?


Nama  : Fataya Syailla
NIM    : C1AA18044

Berpuasa dalam bulan Ramadhan merupakan kewajiban bagi seorang muslim dewasa. Puasa diartikan sebagai ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala hal yang membatalkannya, dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Selama puasa Ramadhan, mayoritas umat muslim akan memiliki dua waktu makan, yakni segera saat tenggelamnya matahari yang ditandai dengan masuknya waktu sholat maghrib (dikenal dengan istilah ifthar atau berbuka puasa) dan makan saat sebelum fajar terbit (dikenal dengan istilah sahur) sehingga lamanya waktu berpuasa adalah berkisar antara 11 jam hingga 18 jam setiap harinya. Puasa sejatinya tidak dimaksudkan untuk menyulitkan dan mencelakakan individu muslim. Secara tegas, dalam kitab suci umat Islam Al-Quran dijelaskan bahwa berpuasa tidak diwajibkan pada anak-anak, perempuan dalam masa menstruasi, orang sakit, orang yang dalam perjalanan, perempuan hamil dan menyusui.
Khusus bagi para penderita maag, banyak dokter justru tetap menyarankan kepada pasien untuk tetap berpuasa, karena adanya berbagai manfaat positif yang ditimbulkan. Dalam banyak penelitian, didapatkan kadar asam lambung pada penderita maag yang berpuasa justru lebih rendah (mendekati normal) dibandingkan hari-hari saat tidak berpuasa. Hal tersebut dikarenakan pada saat pasien berpuasa, pasien melakukan pola makan yang lebih teratur, mengurangi camilan yang seringkali merupakan makanan berlemak, mengurangi rokok dan minuman bersoda, dan adanya upaya pengendalian emosi sehingga jarang terjadi stress.
Penyakit gastritis atau maag merupakan penyakit yang sangat kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Penyakit ini sering ditandai dengan nyeri ulu hati, mual, muntah, cepat kenyang, nyeri perut dan lain sebagainya. Penyakit maag sangat mengganggu karena sering kambuh akibat pengobatan yang tidak tuntas. Sebenarnya kunci pengobatan penyakit maag adalah dapat mengatur agar produksi asam lambung terkontrol kembali sehingga tidak berlebihan, yaitu dengan menghilangkan stress dan makan dengan teratur (Wijoyo, 2009).
Tips-tips ini perlu diperhatikan agar pasien dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar dan tanpa menimbulkan keluhan maag yang berarti. Beberapa upaya yang perlu dilakukan oleh pasien penderita maag saat berpuasa diantaranya:
1. Memulai puasa dengan niat yang ikhlas untuk beribadah. Dengan niat yang ikhlas, Insya Allah akan dimudahkan dalam menjalankan ibadah dan lebih mampu mengendalikan emosi yang berujung pada stres yang mampu memicu peningkatan asam lambung.
2. Selalu makan sahur dan sebisa mungkin mengakhirkannya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul yang menyatakan bahwa di dalam sahur terdapat berkah, serta sunnah beliau yang selalu mengakhirkan waktu makan sahur mendekati waktu subuh. Manfaat dari perilaku ini adalah tubuh masih menyimpan cadangan kalori yang cukup di siang hari saat beraktivitas. Apabila sahur diawalkan, makanan yang dikonsumsi sudah tercerna sehingga tubuh cenderung kekurangan energi pada saat masih dibutuhkan, dan lambung berada dalam kondisi kosong dalam waktu yang terlalu lama.
3. Beraktivitas fisik secara biasa. Puasa bukan halangan untuk melakukan aktivitas fisik sebagaimana hari biasa. Justru apabila aktivitas fisik dikurangi, maka pasokan darah akan lebih banyak diarahkan ke saluran cerna, sehingga proses pencernaan terjadi lebih cepat. Kondisiini tentu tidak menguntungkan bukan hanya bagi penderita maag, tetapi juga semua orang yang berpuasa.
4. Menyegerakan berbuka. Hal ini bertujuan agar tubuh segera mendapatkan asupan kalori setelah seharian beraktivitas. Selain itu, asupan cairan juga dibutuhkan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang selama berpuasa. Kondisi kurang cairan/ dehidrasi merupakan stress bagi tubuh yang akan memicu peningkatan asam lambung. Oleh karena itu, untuk mencegahnya, pasien penderita maag perlu segera berbuka ketika waktunya telah tiba.
5. Berbuka dengan makanan yang baik. Pada saat berbuka puasa, pola makan yang dianjurkan adalah memulai buka puasa dengan makanan yang relatif “ringan” dan tidak merangsang lambung. Setelah dalam jangka waktu cukup lama berada dalam kondisi kosong, perlu waktu bagi lambung untuk kembali mulai bekerja. Tidak dianjurkan untuk berbuka puasa dengan cara mengonsumsi makanan berat secara sekaligus, atau berbuka dengan mengonsumsi makanan pedas. Konsumsi makanan berat dalam jumlah banyak secara mendadak dapat membuat proses pencernaan tidak berlangsung dengan optimal. Dan konsumsi makanan yang merangsang lambung, seperti makanan yang terlalu dingin atau panas, dan juga makanan yang pedas/berbumbu tajam, dapat memicu produksi asam lambung yang lebih banyak sehingga berpotensi menimbulkan berbagai keluhan.

Demikian beberapa tips yang dapat dilakukan oleh para penderita maag agar mampu menjalankan ibadah puasa dengan optimal dan bebas dari keluhan lambung. Semoga kita semua dikaruniakan kesehatan dan mendapatkan keberkahan serta pahala dari puasa yang kita kerjakan.



DAFTAR PUSTAKA

Wahyu, D., Supono., Hidayah, N. 2015. Pola Makan Sehari-hari Penderita Gastritis. Jurnal  Informasi  kesehatan  Indonesia (JIKI), Volume 1, No. 1, Mei 2015: 17-24.

Firmansyah, M, A. 2013. Tata Laksana Diabetes Melitus saat Puasa Ramadhan. CDK-204/ vol. 40 no. 5, th. 2013

Kirman., Saputra, A., Sukmana, J.2018. Sistem Pakar Untuk  Mendiagnosis  Penyakit Lambung dan  Penanganannya Menggunakan Metode Dempster Shafer. Jurnal Pseudocode, Volume VI Nomor 1, Februari 2019, ISSN 2355-5920, e-ISSN 2655-1845 www.ejournal.unib.ac.id/index.php/pseudocode.

Rugge, M, M, D., Robert, M., Genta, M, D. 2005. Staging and grading of chronic gastritis. Human Pathology (2005) 36, 228–233


Salimzadeh, L., Bagheri, N., Zamanzad, B., Dehkordi, F, A., Rahimian, G., Chaleshtori, M, H., Kopaei, M, R., Sanei, M, H., Shirzad, H. 2014. Frequency of Virulence factors in Helicobacter pylori-infected patients with gastritis. Microbial Phatogenesis 80 (2015) 67-72.



8 komentar: