Minggu, 16 Januari 2022

Pengendalian Penyakit Malaria - Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Kesehatan

 TUGAS SISTEM INFORMASI KESEHATAN 

Kelompok 10

- Fataya Syailla

- Dwi Oktavianingsih

- Adi Saepul Anwar

Kelas 4B Sarjana Keperawatan

STIKes Sukabumi



PENGENDALIAN PENYAKIT MALARIA

BERDASARKAN ANGKA KESAKITAN MALARIA

(ANNUAL PRACTICE INCIDENCE/API) PER 1.000 PENDUDUK 

TAHUN 2009 - 2019



        Malaria adalah penyakit yang disebebkan oleh parasite (protozoa) dari genus Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alamiah ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Orang yang menderita malaria secara khas mengalami gejala awal mirip seperti flu, demam tinggi, rasa dingin, dan sakit kepala. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok umur. Gejala malaria akan tampak setelah 10 hari sampai 4 minggu berupa demam, sakit kepala, muntah, menggigil (Supranefly dan Oktarina, 2021).
Trias epidemiologi menjelaskan konsep terjadinya penyakit ditentutakan oleh tiga faktor yaitu pejamu (host), penyebab penyakit (agent), dan lingkungan (environment). Penularan malaria berkaitan dengan manusia sebagai pejamu dan perilakunya, keberadaan Plasmodium dalam tubuh nyamuk betina, serta lingkungan sebagai tempat perindukan dan peristirahatan vector. Ketiga faktor tersebut menentukan resiko penularan malaria, dengan demikian dalam upaya pencegahan penularan malaria harus memperhatikan ketiga faktor perilaku manusia, keberadaan agen, dan lingkungan (Supranefly dan Oktarina, 2021).
        Menurut Desita, dkk (2021) Malaria menyerang menyerang semua kelompok umur baik laki – laki maupun perempuan dan memberi kontribusi yang tinggi terhadap angka kematian bayi, balita dan ibu hamil. Upaya memastikan seseorang penderita positif malaria dilakukan denga konfirmasi hasil tes laboratorium terhadap sampel darah penderita. Malaria sebagai salah satu penyakit menular, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena berdampak terhadap kematian dan penurunan kualitas sumber daya manusia. Kasus malaria diIndonesia pada tahun 2020 sebanyak 226.364 dengan kelengkapan laporan sebesar 86%. Kasus malaria tertinggi yaitu ditemukan di Provinsi Papua sebanyak 216.380 kasus dengan Annual Paracite Incidence (API / angka kesakitan malaria 52,99 per 1000 penduduk, diikuti Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 12.909 kasus (API 2,42) dan Provinsi Papua Barat sebanyak 7.079 kasus (API 1,3). 
        Adapun grafik angka kesakitan malaria (Annual Practice Incidence/API) per 1000 penduduk tahun 2009 - 2019, sebagai berikut :

Angka Kesakitan Malaria 
(Annual Practie Incidence/API)
per 1000 Penduduk Tahun 2009 - 2019

Sumber : Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2020


        Berdasarkan grafik diatas menyatakan bahwa kasus terbesar terdapat di tahun 2010 dengan jumlah API sebesar 1,96 dan kasus terkecil berada di tahun 2018 dengan jumlah API sebesar 0,84. Pada tahun 2013 - 2014, angka kesakitan malaria mengalami penurunan terbanyak sebanyak 0,39 dan pada tahun 2016 - 2017, angka kesakitan malaria mengalami meningkatan terbanyak sebanyak 0,11.
        Berbagai program dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai target bebas malaria pada tahun 2030 dengan menurunkan Annual Parasite Incidence (API) malaria di Indonesia. Program pengendalian vector malaria telah dilakukan dengan cara mengendalikan populasi nyamuk dewasa melalui penyemprotan dalam rumah (Indoor Residual Spray) dan kelambu berinsektisida (Long Lasting Insecticide Nets), larvasidasi, serta modifikasi/manipulasi habitat perkembangbiakan nyamuk.
    Penyemprotan dalam rumah dan pemakaian kelambu berinsektisida bertujuan untuk memperpendek umur nyamuk sehingga penyebaran dan penularan malaria dapat terputus. Program pembagian kelambu berinsektisida pada daerah endemis malaria merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan untuk mencegah penularan malaria, terutama bagi daerah endemis tinggi dengan target minimal 80% penduduk di daerah tersebut mendapatkannya.7 Semakin lama penggunaannya, efektivitas kelambu berinsektida akan semakin berkurang. Setelah 3 tahun pemakaian, efektivitasnya semakin berkurang. Penggunaan kelambu berinsektisida akan efektif mencegah penularan malaria bila didukung oleh perawatan yang baik terhadap kelambu berinsektisida tersebut.
Eliminasi malaria adalah suatu upaya untuk menghentikan penularan penyakit malaria setempat dalam waktu wilyah geografis tertentu, dan bukan berarti tidak ada kasus malaria impor/kasus malaria dari luar wilayah tersebut, serta sudah tidak ada vector malaria/nyamuk Anopheles di wilayah tersebut, sehingga tetap dibutuhkan kegiatan kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali.
        Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang diantaraya faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, dan keterpajanan penyuluhan. Perilaku masyarakat sangat berpengaruh besar terhadap terjadinya penularan malaria. Kejadian malaria ada hubungannya dengan pendidikan, penghasilan, pengetahuan, sikap, tindakan, dan penggunaan kelambu.
        Upaya pencegahan sederhana terhadap penyakit malaria dapat dilakukan antara lain dengan cara tidur menggunakan kelambu berinsektisida, memasang kawat kassa pada lubang – lubang angina, mengolesi badan dengan repelen/bahan – bahan pencegah gigitan nyamuk, pemakaian raket nyamuk, memakai obat nyamuk bakar serta tidak berada di luar rumah pada malam hari.
          Penggunaan kelambu merupakan upaya protektif terhadap kejadian malaria karena merupakan barrier yang tidak dapat ditembus oleh vector malaria sehingga terhindar dari gigitan nyamuk. Pemeliharaan kelambu berinsektisida merupakan faktor penting untuk menjamin efektivitas kelambu tersebut. Saat ini, monitoring dan evaluais program kelambu berinsektisida hanya focus pada kesakitan da kematian manusia, kurang memperhatikan pemeliharaan kelambu berinsektisida dan sisi entomologinya. Teknik pemeliharaan kelambu yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) adalah pencucian ulang setiap tiga bulan sekali sampai 20 kali pencucuian da penjemuran di tempat yang teduh (tidak terkena sinar matahari langsung. Kelambu yang digunakan < 3 tahun merupakan kelambu yang masih dianggap aktif disbanding > 3 tahun. Kelambu beinsektisida yang telah digunakan selama enam bulan mempunyai efektivitas yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kelambu berinsektisida yang telah digunakan lebih dari 12 dan 24 bulan. 
        Upaya menghentikan penularan malaria di wilayah tertentu disebut eliminasi malaria. Upaya ini dihasilkan melalui kesepakatan global World Health Assembly (WHA) tahun 2007 tentang Eliminasi Malaria di setiap negara di dunia sampai tahun 2030. Menindaklanjuti kesepakatan tersebut, pemerintah Indonesia kemudia menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 293/Menkes/SK/IV/2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat dan terbebas dari penularan malaria secara bertahap dari tingkat Kabupaten/Kota sampai seluruh Indonesia yang disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia dan situasi malaria. Daerah Kabupaten/Kota yang mencapai API < 1 per 1000 penduduk memasuki tahap persiapan eliminasi. Pada tahun 2019, salah satu kabupaten yang memasuki tahap persiapan eliminasi adalah Kabupaten Kupang. Kasus malaria yang ditemukan di Kabupaten Kupang tahun 2020 sebanyak 58 kasus (API 0,18)


Daftar Pustaka :
Destia, M, Y., Riwu, Y, R., Limbu, R. 2021. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Surveilans Malaria 
dalam Mendukung Eliminasi Penyakit Malaria di Kabupaten Kupang. Media Kesehatan  Masyarakat Vol. 3 No. 2
Supranefly, Y., Oktarina, R. 2021. Gambaran Perilaku Pencegahan Penyakit Malarian di Sumatera 
Selatan (Analisis Lanjut Riskesdas 2018). BALABA Vol. 17 No. 1













Senin, 13 Mei 2019

BAGAIMANA PENDERITA MAAG  BERPUASA?


Nama  : Fataya Syailla
NIM    : C1AA18044

Berpuasa dalam bulan Ramadhan merupakan kewajiban bagi seorang muslim dewasa. Puasa diartikan sebagai ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala hal yang membatalkannya, dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Selama puasa Ramadhan, mayoritas umat muslim akan memiliki dua waktu makan, yakni segera saat tenggelamnya matahari yang ditandai dengan masuknya waktu sholat maghrib (dikenal dengan istilah ifthar atau berbuka puasa) dan makan saat sebelum fajar terbit (dikenal dengan istilah sahur) sehingga lamanya waktu berpuasa adalah berkisar antara 11 jam hingga 18 jam setiap harinya. Puasa sejatinya tidak dimaksudkan untuk menyulitkan dan mencelakakan individu muslim. Secara tegas, dalam kitab suci umat Islam Al-Quran dijelaskan bahwa berpuasa tidak diwajibkan pada anak-anak, perempuan dalam masa menstruasi, orang sakit, orang yang dalam perjalanan, perempuan hamil dan menyusui.
Khusus bagi para penderita maag, banyak dokter justru tetap menyarankan kepada pasien untuk tetap berpuasa, karena adanya berbagai manfaat positif yang ditimbulkan. Dalam banyak penelitian, didapatkan kadar asam lambung pada penderita maag yang berpuasa justru lebih rendah (mendekati normal) dibandingkan hari-hari saat tidak berpuasa. Hal tersebut dikarenakan pada saat pasien berpuasa, pasien melakukan pola makan yang lebih teratur, mengurangi camilan yang seringkali merupakan makanan berlemak, mengurangi rokok dan minuman bersoda, dan adanya upaya pengendalian emosi sehingga jarang terjadi stress.
Penyakit gastritis atau maag merupakan penyakit yang sangat kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Penyakit ini sering ditandai dengan nyeri ulu hati, mual, muntah, cepat kenyang, nyeri perut dan lain sebagainya. Penyakit maag sangat mengganggu karena sering kambuh akibat pengobatan yang tidak tuntas. Sebenarnya kunci pengobatan penyakit maag adalah dapat mengatur agar produksi asam lambung terkontrol kembali sehingga tidak berlebihan, yaitu dengan menghilangkan stress dan makan dengan teratur (Wijoyo, 2009).
Tips-tips ini perlu diperhatikan agar pasien dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar dan tanpa menimbulkan keluhan maag yang berarti. Beberapa upaya yang perlu dilakukan oleh pasien penderita maag saat berpuasa diantaranya:
1. Memulai puasa dengan niat yang ikhlas untuk beribadah. Dengan niat yang ikhlas, Insya Allah akan dimudahkan dalam menjalankan ibadah dan lebih mampu mengendalikan emosi yang berujung pada stres yang mampu memicu peningkatan asam lambung.
2. Selalu makan sahur dan sebisa mungkin mengakhirkannya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul yang menyatakan bahwa di dalam sahur terdapat berkah, serta sunnah beliau yang selalu mengakhirkan waktu makan sahur mendekati waktu subuh. Manfaat dari perilaku ini adalah tubuh masih menyimpan cadangan kalori yang cukup di siang hari saat beraktivitas. Apabila sahur diawalkan, makanan yang dikonsumsi sudah tercerna sehingga tubuh cenderung kekurangan energi pada saat masih dibutuhkan, dan lambung berada dalam kondisi kosong dalam waktu yang terlalu lama.
3. Beraktivitas fisik secara biasa. Puasa bukan halangan untuk melakukan aktivitas fisik sebagaimana hari biasa. Justru apabila aktivitas fisik dikurangi, maka pasokan darah akan lebih banyak diarahkan ke saluran cerna, sehingga proses pencernaan terjadi lebih cepat. Kondisiini tentu tidak menguntungkan bukan hanya bagi penderita maag, tetapi juga semua orang yang berpuasa.
4. Menyegerakan berbuka. Hal ini bertujuan agar tubuh segera mendapatkan asupan kalori setelah seharian beraktivitas. Selain itu, asupan cairan juga dibutuhkan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang selama berpuasa. Kondisi kurang cairan/ dehidrasi merupakan stress bagi tubuh yang akan memicu peningkatan asam lambung. Oleh karena itu, untuk mencegahnya, pasien penderita maag perlu segera berbuka ketika waktunya telah tiba.
5. Berbuka dengan makanan yang baik. Pada saat berbuka puasa, pola makan yang dianjurkan adalah memulai buka puasa dengan makanan yang relatif “ringan” dan tidak merangsang lambung. Setelah dalam jangka waktu cukup lama berada dalam kondisi kosong, perlu waktu bagi lambung untuk kembali mulai bekerja. Tidak dianjurkan untuk berbuka puasa dengan cara mengonsumsi makanan berat secara sekaligus, atau berbuka dengan mengonsumsi makanan pedas. Konsumsi makanan berat dalam jumlah banyak secara mendadak dapat membuat proses pencernaan tidak berlangsung dengan optimal. Dan konsumsi makanan yang merangsang lambung, seperti makanan yang terlalu dingin atau panas, dan juga makanan yang pedas/berbumbu tajam, dapat memicu produksi asam lambung yang lebih banyak sehingga berpotensi menimbulkan berbagai keluhan.

Demikian beberapa tips yang dapat dilakukan oleh para penderita maag agar mampu menjalankan ibadah puasa dengan optimal dan bebas dari keluhan lambung. Semoga kita semua dikaruniakan kesehatan dan mendapatkan keberkahan serta pahala dari puasa yang kita kerjakan.



DAFTAR PUSTAKA

Wahyu, D., Supono., Hidayah, N. 2015. Pola Makan Sehari-hari Penderita Gastritis. Jurnal  Informasi  kesehatan  Indonesia (JIKI), Volume 1, No. 1, Mei 2015: 17-24.

Firmansyah, M, A. 2013. Tata Laksana Diabetes Melitus saat Puasa Ramadhan. CDK-204/ vol. 40 no. 5, th. 2013

Kirman., Saputra, A., Sukmana, J.2018. Sistem Pakar Untuk  Mendiagnosis  Penyakit Lambung dan  Penanganannya Menggunakan Metode Dempster Shafer. Jurnal Pseudocode, Volume VI Nomor 1, Februari 2019, ISSN 2355-5920, e-ISSN 2655-1845 www.ejournal.unib.ac.id/index.php/pseudocode.

Rugge, M, M, D., Robert, M., Genta, M, D. 2005. Staging and grading of chronic gastritis. Human Pathology (2005) 36, 228–233


Salimzadeh, L., Bagheri, N., Zamanzad, B., Dehkordi, F, A., Rahimian, G., Chaleshtori, M, H., Kopaei, M, R., Sanei, M, H., Shirzad, H. 2014. Frequency of Virulence factors in Helicobacter pylori-infected patients with gastritis. Microbial Phatogenesis 80 (2015) 67-72.